• Blog Stats

    • 46,420 Pengunjung
  • Kategori Tulisan

  • RSS Komunitas Mahasiswa Teknik Sipil USM Kelas Karyawan

    • Peringatan BPOM tentang Kantong Plastik Makanan
      Kepada semua pengunjung website yang tercinta mohon bisa disebarkan ke rekan-rekan, saudara ataupun tetangga yang ada di sekitarmu informasi yang bermanfaat ini. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas kunjungannya.
    • Pekerjaan Pile Cap dan Tie Beam pada Gedung Baru Universitas Semarang
      Setelah proses pemancangan selesai dilanjutkan dengan pemotongan tiang pancang dan dilanjutkan dengan pekerjaan pile cap dan Tie beam Pekerjaan ini merupakan pekerjaan awal dari stuktur atas (upper structure) setelah pekerjaan struktur bawah (sub structure) selesai dilaksanakan. Semua bahan yang digunakan untuk pekerjaan ini harus memenuhi ketentuan‑ketentua […]
    • Pekerjaan Pondasi Tiang Pancang Pembangunan Gedung Baru Universitas Semarang
      Pondasi merupakan bagian paling bawah dari suatu konstruksi yang mempunyai fungsi untuk meneruskan beban konstruksi ke dalam lapisan tanah yang berada di bawah pondasi. Suatu perencanaan pondasi dikatakan benar apabila beban yang diteruskan oleh pondasi ke dalam tanah tidak melampaui kekuatan tanah yang bersangkutan. Apabila kekuatan tanah dilampaui maka aka […]
    • Mengitung Portal Beton Bertulang menggunakan SAP 2000 V.11
      Diketahui struktur portal dari beton f’c = 20 Mpa bekerja beban mati (DL), beban hidup (LL), dan beban gempa (EL) seperti pada gambar, dimensi balok 35 x 50 cm2, dan kolom 30 x 30 cm2, Penyelesaian : a. Menentukan Model Struktur 1) Tetapkan unti satuan ke kN.m.C 2) Pilih menu File – New Model, pada […]
    • Menghitung contoh Struktur Jembatan Baja dengan SAP 2000 V.11
      Diketahui seatu jembatan rangka baja dengan data sebagai berikut : · Bentang 6 x 6,0 m, tinggi 5,0 m · Profil yang digunakan IWF 14 x 90 · Fy = 240 Mpa · Beban yang bekerja adalah beban Mati (DL) dan beban Hidup (LL), dimana berat sendiri struktur sudah termasuk dalam pembebanan · DL = […]
    • PERHITUNGAN PONDASI
      Analisa Data dan Penyelidikan Tanah Pondasi merupakan struktur bawah yang berfungsi untuk meletakkan bangunan di atas tanah dan meneruskan beban ke tanah dasar. Untuk itu perlu dilaksanakan penyelidikan kondisi tanah pada lokasi yang akan dibangun. Dari Hasil Tes Boring (Boring Log) Kedalaman ±0,00 m s/d -0,20 m berupa tanah urugan batu dan sirtu. Kedalaman […]
    • Perbandingan Kuat Tekan Beton
      Dalam perancangan komponen struktur beton bertulang, beton diasumsikan hanya menerima beban tekan saja. Dengan demikian, mutu beton selalu dikaitkan dengan kemampuannya dalam memikul beban tekan (atau istilahnya kuat tekan). Penentuan kuat tekan beton dapat diperoleh melalui pengujian tekan di laboratorium. Benda uji yang digunakan biasanya adalah: Benda uji […]
    • indeks harga satuan pekerjaan pondasi
      6.1 Memasang 1 m3 pondasi batu belah, campuran 1 PC : 3 PP 6.2 Memasang 1 m3 pondasi batu belah, campuran 1 PC : 4 PP 6.3 Memasang 1 m3 pondasi batu belah, campuran 1 PC : 5 PP 6.4 Memasang 1 m3 pondasi batu belah, campuran 1 PC : 6 PP 6.5 Memasang 1 […]
    • Output gaya – gaya dalam pada Program SAP 2000
      Gaya – gaya dalam yang dihasilkan dari analisis struktur pada program SAP 2000 antara lain : 1) Gaya Normal / axial (P) 2) Gaya geser / lintang pada bidang 1-2 / shear (V2) 3) Gaya geser / lintang pada bidang 1-3 / shear (V3) 4) Momen puntir / torsion (T) 5) Momen pada bidang 1-3 […]
    • KKL Mahasiswa Kelas Sore Tahun 2009
      PAda tanggal 20 Februari 2009 Mahasiswa Teknik Sipil Kelas Sore mengadakan KKL ke Waduk Gajah Mungkur Wonogiri Sebelum Berangkat mendapat pengarahan dari Ketua Jurusan Teknik Sipil yaitu Bp. Purwanto, ST, MT Setekah mendapatkan pengarahan dari kajur Teknik Sipil kurang lebih 15 menit, langsung menuju bis berangkat meluncur ke Wonogiri, sampai di solo jam 9 p […]
  • Administrator

Peringatan BPOM tentang Kantong Plastik Makanan

Kepada semua pengunjung website yang tercinta mohon bisa disebarkan ke rekan-rekan, saudara ataupun tetangga yang ada di sekitarmu informasi yang bermanfaat ini.

clip_image002

clip_image002[10]

clip_image002[14]

clip_image002[16]

clip_image002[18]

clip_image002[20]

clip_image002[22]

clip_image002[24]

clip_image002[26]

clip_image002[28]

Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas kunjungannya.smile_regularthumbs_up



Pekerjaan Pile Cap dan Tie Beam pada Gedung Baru Universitas Semarang

Setelah proses pemancangan selesai dilanjutkan dengan pemotongan tiang pancang dan dilanjutkan dengan pekerjaan pile cap dan Tie beam Pekerjaan ini merupakan pekerjaan awal dari stuktur atas (upper structure) setelah pekerjaan struktur bawah (sub structure) selesai dilaksanakan. Semua bahan yang digunakan untuk pekerjaan ini harus memenuhi ketentuan‑ketentuan yang berlaku. Adapun pekerjaan pile cap dan tie beam ini meliputi :

1. Penulangan pile cap dan tie beam

2. Bekisting pile cap dan tie beam

3. Pengecoran pile cap dan tie beam

4. Pembongkaran bekisting pile cap dan tie beam

5.1.1 Penulangan Pile Cap dan Tie Beam

Sebelum membahas mengenai langkah‑langkah penulangan pile cap dan tie beam maka terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pekerjaan penulangan keseluruhan secara umum.

Penulangan adalah pekerjaan yang bertujuan untuk membentuk dan memasang besi tulangan beton sebagai kerangka struktur pada konstruksi beton agar sesuai dengan gambar rencana. Fungsi tulangan pada beton adalah untuk menahan gaya tekan, gaya geser dan momen torsi yang timbul akibat beban yang bekerja pada konstruksi beton tersebut. Sesuai dengan sifat beton yang kuat terhadap tekan, tetapi lemah terhadap tarik. Oleh karena itu perencanaan dan pelaksanaan pembesian harus dilakukan sesuai dengan spesifikasi teknis dan gambar yang telah direncanakan oleh perencana struktur yaitu dalam hal :

a. Ukuran diameter baja tulangan.

b. Kualitas baja tulangan yang digunakan.

c. Penempatan / pemasangan baja tulangan.

Beberapa kegiatan yang dilakukan pada pekerjaan pembesian penulangan pada proyek ini antara lain:

1. Pabrikasi Besi

Proses pabrikasi besi terdiri dari pekerjaan pemotongan dan pembengkokan besi tulangan. Pemotongan dilakukan karena panjang besi dipasaran adalah 12 meter, sedangkan panjang tulangan elemen struktur yang digunakan terdiri dari bermacam‑macam ukuran sesuai perhitungan tulangan. Pemotongan besi digunakan dengan Bar Cutter.

Pembengkokan dilakukan untuk membentuk tulangan yang disesuaikan dengan perencanaan. Jika terjadi kesalahan pada pembengkokan maka besi tulangan tersebut tidak boleh dibengkokkan kembali tetapi harus dipotong, hal ini untuk menghindari timbulnya retak‑retak ditempat pembengkokan ulang tersebut karena sifat getas baja. Pembengkokan dilakukan dengan Bar Bender dengan berbagai macam diameter ukuran.

Sebelum mengerjakan proses pabrikasi besi, bagian pembesian menyusun daftar bengkok dan potong baja tulangan berdasarkan gambar pelaksanaan (shop drawing) yang dibuat oleh Kontraktor Utama. Hal‑hal yang harus diperhatikan dalam menyusun daftar bengkok dan potong baja tulangan adalah :

a. Sambungan antar tulangan harus ditempatkan sedemikian rupa pada daerah yang momennya nol atau dengan menggunakan sambungan lewatan sehingga gaya dan batang yang satu dapat disalurkan ke batang yang lain. Panjang dan bentuk baja tulangan direncanakan secara ekonomis sehingga bagian-bagian sisi atau yang tidak terpakai didapat seminimal mungkin.

b. Memperhitungkan teknik pemasangan tulangan sehingga tidak menyulitkan dalam pelaksanaan di lapangan.

2. Pemasangan Tulangan

Baja tulangan dan sengkang yang telah dipotong dan dibengkokan dibawa ke lapangan untuk dipasang pada posisi sesuai denah gambar pelaksanaan. Kegiatan yang dilakukan pada pekerjaan pemasangan tulangan antara lain :

a. Pemeriksaan diameter, panjang, dan bentuk tulangan dilakukan sebelum baja tulangan tersebut dipasang.

b. Jarak antar tulangan serta jumlah tulangan, baik untuk tulangan lentur maupun tulangan geser diatur sesuai gambar.

c. Sengkang dipasang secara manual. Penyambungan sengkang pada tulangan utama dengan menggunakan kawat bendrat.

d. Memastikan daerah‑daerah dan ukuran panjang penyaluran sambungan lewatan dan panjang penjangkaran.

e. Pemeriksaan tebal selimut beton dengan memasang beton decking sebagai acuan selimut beton yang akan dicor.

Setelah pekerjaan lantai kerja selesai dilaksanakan, maka dilanjutkan dengan pembesian pile cap dan tie beam.

Langkah‑langkah pembesian pile cap :

1. Menentukan daftar lengkungan bengkok besi, dimana digunakan besi D 22 mm, dengan jarak antar tulangan 150 mm sama untuk semua pile cap tetapi berbeda untuk jumlah tulangan dan tinggi pile cap sesuai dengan gambar rencana.

2. Semua besi yang telah disediakan kemudian dibengkokkan sesuai dengan daftar diatas kemudian dirakit diluar lokasi sesuai dengan gambar rencana. Digunakan kawat bendrat sebagai lekatan antar tulangan.

3. Tulangan pile cap yang telah jadi kemudian diangkat dan dipasang pada lokasi pile cap yang telah ditentukan.

4. Tulangan pile cap dilekatkan dengan tulangan luar pondasi tiang pancang yang telah dihancurkan betonnya dengan menggunakan kawat bendrat sehingga tulangan pile cap tampak benar‑benar kuat dan kokoh.

clip_image002

Gambar 5.3 Penulangan Pile Cap

Langkah‑langkah pembesian tie beam:

1. Penyediaan tulangan besi yang akan digunakan sesuai dengan yang tertera didalam gambar rencana, yaitu besi D 16 mm dengan jarak sengkang 150 mm

2. Tulangan dipasang dilokasi didahului dengan tulangan pokok untuk mempermudah pekerjaan.

3. Sengkang dipasang dengan jarak 150 mm sama untuk keseluruhan tulangan. .

4. Tulangan pokok diikatkan pada sengkang dengan kawat bendrat agar jaraknya tidak berubah.

5. Sambungan tulangan sebesar 40 kali diameter tulangan pokok harus dilakukan selang‑seling dan penempatan sambungan di tempat‑tempat dengan tegangan maksimum sedapat mungkin dihindari.

6. Sambungan lewatan harus ada overlapping / tidak sejajar antara tulangan atas dengan tulangan bawah. Dipasang beton decking padatulangan sloof tersebut yang berfungsi untuk membuat selimut pada beton sehingga tidak ada tulangan yang tampak karena dapat menyebabkan tulangan berkarat. Tebal beton decking yang dipasang harus disesuaikan dengan tebal selimut beton yang direncanakan.

clip_image004

Gambar 5.4 Penulangan Tie Beam

5.1.2 Bekisting Pile Cap dan Tie Beam

Setelah pembesian pile cap dan tie beam selesai dilaksanakan maka, tahap selanjutnya memasang bekisting untuk pile cap dengan diikuti oleh bekisting tie beam. Bekisting dibuat dengan papan kayu bengkirai dengan rangka kayu yang kuat.

Adapun langkah‑langkah pekerjaan pembuatan dan pemasangan bekisting untuk pile cap adalah sebagai berikut :

1. Mengadakan pengukuran dan penandaan / marking posisi bekisting yang akan dipasang dimana untuk tiap‑tiap pile cap berlainan ukurannya tergantung berapa titik pondasi yang menahannya.

2. Bekisting dirakit sesuai dengan ukuran pile cap masing‑masing, dimana digunakan kayu multipleks.

3. Bekisting diolesi dengan menggunakan mud oil agar tidak terjadi kesulitan‑kesulitan pada waktu. pembongkaran bekisting.

4. Bekisting dipasang tegak lurus pada lokasi pile cap yang sudah diberi tanda kemudian bekisting yang, sudah terpasang seluruhnya dikunci dengan menggunakan kayu 8 / 12 dan paku secukupnya agar kedudukan bekisting tersebut tetap stabil, tidak mengalami goyangan pada waktu. pengecoran dilaksanakan.

clip_image006

Gambar 5.5 Bekisting Pile Cap

Langkah‑langkah pekerjaan pembuatan dan pemasangan bekisting untuk tie beam adalah sebagai berikut:

1. Mengadakan marking posisi bekisting yang akan dipasang.

2. Pemotongan papan kayu dan perakitan bagian‑bagian bekisting yang akan dibuat disesuaikan dengan ukuran tie beam tersebut.

3. Sebelum bekisting dipasang, terlebih dahulu bekisting dibagian dalam diolesi dengan menggunakan mud oil, hal ini berfungsi agar pada waktu pembongkaran bekisting tidak mengalami kesulitan.

4. Pemasangan bekisting tegak lurus pada lokasi tie beam yang telah ditentukan kemudian dikunci dengan menggunakan kayu 8 / 12 dan paku secukupnya sebagai penahan goyangan.

clip_image008

Gambar 5.6 Bekisting Tie Beam

5.1.3 Pengecoran Pile Cap dan Tie Beam

Untuk pengecoran pile cap dan tie beam dalam proyek ini menggunakan beton ready mix, dengan mutu beton K‑300 sesuai dengan rencana. Adapun langkah‑langkah pengecoran antara pile cap dan tie beam pada umumnya sama sehingga diringkas dijadikan satu.

Langkah‑langkah tersebut antara lain:

1. Membersihkan lokasi pengecoran dari segala kotoran dan air yang menggenang dengan menggunakan pompa air.

2. Membuat tanda / marking pada bekisting yang menunjukan batas berhentinya pengecoran baik pada bekisting pile cap maupun bekisting tie beam

3. Mengatur dan mengarahkan penuangan beton sesuai dengan metode pelaksanaan.

4. Agar semua adonan beton dapat masuk kedalam tulangan pile cap dan tie beam maka digunakan alat vibrator untuk meratakanya serta ditekan dengan tekanan tinggi agar beton tersebut dapat memadat.

5. Mengontrol elevasi atau ketinggian beton pada saat pelaksanaan pengecoran.

6. Menghentikan pengecoran dan meratakan serta menghaluskan permukaan beton dengan menggunakan alat pertukangan manual / plester.

clip_image010

Gambar 5.7 Membersihkan tulangan dan bekisting dengan Water Pump

clip_image012

Gambar 5.8 Pengecoran Pile Cap dan Tie beam dengan beton readymix

clip_image014

Gambar 5.9 Pengecoran lewat talang untuk menjangkau poer yang jauh

clip_image016

Gambar 5.10 Pemadatan pengecoran dengan Concrete Vibrator

5.1.4 Pembongkaran Bekisting Pile Cap dan Tie Beam

Pembongkaran bekisting pada proyek ini dilakukan 2-3 hari setelah pengecoran, dengan syarat pile cap dan sloof tidak menerima beban di atasnya. Alasan lain dilakukannya pembongkaran itu agar bekisting dapat digunakan untuk bagian yang lain.

Pekerjaan Pondasi Tiang Pancang Pembangunan Gedung Baru Universitas Semarang

Pondasi merupakan bagian paling bawah dari suatu konstruksi yang mempunyai fungsi untuk meneruskan beban konstruksi ke dalam lapisan tanah yang berada di bawah pondasi. Suatu perencanaan pondasi dikatakan benar apabila beban yang diteruskan oleh pondasi ke dalam tanah tidak melampaui kekuatan tanah yang bersangkutan. Apabila kekuatan tanah dilampaui maka akan terjadi penurunan dan keruntuhan tanah yang berlebihan. Kedua hal ini yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan konstruksi yang berada diatasnya. Banyak faktor yang mempengaruhi penentuan bentuk dan jenis pondasi, tergantung dari segi mana kita meninjaunya. Dari segi ekonomis dapat diambil denagn contoh besarnya biaya yang tersedia dan waktu pelaksanaan. Dari segi teknis yang sangat menentukan dalam pemilihan bentuk dan jenis pondasi antara lain :

a. Keadaan perlapisan tanah.

b. Letak atau kedalaman lapisan tanah kuat.

c. Beban terbesar struktur yang harus dipikul pondasi.

Dari uraian tersebut di atas maka perlu di pertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan bentuk dan jenis pondasi. Apabila di tinjau dari segi kedalaman pondasi (D) dan lebar pondasi (B) maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :

a. Bila terletak pada D ≤ 1, menggunakan pondasi dangkal

Pondasi dangkal terdiri dari : Pondasi setempat, pondasi menerus dan pondasi plat.

b. Bila terletak pada D > 4, menggunakan pondasi dalam, maka sebaiknya dipilih pondasi tiang pancang.

Untuk itu perlu dilakukan test tanah guna mengetahui daya dukung, dan jenis tanah, Kedalaman tanah kuat dan lainnya.

Dengan pedoman pada hasil penyelidikan tanah yang telah dilakukan, maka Proyek Pembanguan 2 Gedung 3 Lantai (N dan O) Universitas Semarang ini menggunakan pondasi dalam yaitu pondasi tiang pancang. Penggunaan type pondasi ini didasarkan pada kondasi tanah yang ada di lapangan.

Adapun bentuk tiang pancang berupa beton berpenampang 200×200 mm dengan panjang 6 meter. Mutu tiang pancang adalah K-500. Untuk kedalaman pemancangan diperkirakan 18 meter. Tiang pancang yang digunakan didatangkan dari PT. Beton Multi Mandiri dan CV Imanuel Tehnik Sentosa sebagai pelaksana pemancangannya. Prosess pemancangan dengan PileHammer. Tiang pancang dengan panjang 6 meter digunakan pertama kali pada tiap titiknya, dan dilanjutkan tiang pancang dengan panjang 6 meter. Untuk penyambungan tiang dengan pengelasan.

clip_image002

Gambar 5.1 Pile Hammer

clip_image007

Mengitung Portal Beton Bertulang menggunakan SAP 2000 V.11

Diketahui struktur portal dari beton f’c = 20 Mpa bekerja beban mati (DL), beban hidup (LL), dan beban gempa (EL) seperti pada gambar, dimensi balok 35 x 50 cm2, dan kolom 30 x 30 cm2,

clip_image002

Penyelesaian :

a. Menentukan Model Struktur

1) Tetapkan unti satuan ke kN.m.C

2) Pilih menu File – New Model, pada kotak dialog tentutan pilihan template Portal Frame, isikan data sebagai berikut :

clip_image004

3) Klik OK

4) Jendela 3 D dinonaktifkan, tampilkan jendela X-Z view, sehingga di layar monitor muncul tampilan seperti gambar dibawah ini :

clip_image006

5) Atur perletakan menjadi jepit, dengan cara klik pada semua titik/joint perletakan sehingga akan bertanda silang, kemudian pilih menu Assign – Joint – Restrains.

clip_image007

6) Klik OK, sehingga ,model struktur menjadi seperti gambar di bawah ini :

clip_image009

7) Pilih batang yang tidak digunakan, tekan tombol Delete dari keyboard, pilih menu View – Refresh Windows, maka akan ditampilkan gambar berikut :

clip_image011

8) Untuk memberi penomoran batang dan titik, pilih menu View – Set Display Options, isikan ? pada label dan restraints, serta Labels untuk Frames

clip_image013

9) Klik OK, sehingga akan ditampilkan :

clip_image015

10) Penomoran yang diberikan tidak urut dan tidak rapih, sehingga perlu dilakukan pengaturan ulang pada nomor batang dan titik, dengan cara piih menu Select – Select All, maka seluruh batang akan berubah titik – titik (berarti terpiih semua)

11) Klik menu Edit – Change Label

12) Pada kotak dialog Item Type pilih elemnt Labels – Frame, pilih menu Edit – Auto Relabel – All in List

13) Klik OK

14) Lakukan hal serupa untuk Item Type element Laberl – Joint, pilih menu Auto Relabel – All in List

15) Klik OK

clip_image018

16) Setelah dilakukan penomoran ulang, maka akan ditampilkan model dengan penomoran batang dan titik yang baru yang urut dan rapi

clip_image020

b. Penetapan Penampang Struktur

1) Pilih menu Define – Material, akan tampil kotak dialog Define Materials, untuk mendefinisikan bahan beton pilih 4000Psi dan klik Modify/Show Material

clip_image021

2) Akan muncul kotak dialog Material Property, isikan Material Name and Display Color = CONC, Specified Concrete Compressive Strength f’c = 20000. Untuk fy = fys = 400 Mpa = 400000 N bisa di edit melalui modus teks menggunakan Teks editor maupun Wordped ataupun Notepad.

clip_image022

3) Klik OK

4) Untuk menetapkan dimensi penampang, pilih menu Define – Frame/Cable Sections, akan muncul kotak dialog Frame Properties,

clip_image023

5) Pada kotak klik pada Add New Property, maka akam muncul kotak dialog Add Frame Section Property

clip_image025

6) Pilih Add Ractangular, kemudian muncul kotak dialog Rectangular Section, pada Section Name ketikkan B35x50, material CONC, isikan dimensi t3 = 0,50 dan t2 = 0,35;

clip_image027

7) Klik pada Reinforcement, sehingga ditampilkan Reinforcement Data, pilih Beam, kemudian klik OK, Klik OK

clip_image029

clip_image032

8) Dengan cara yang sama, lakukan untuk menetapkan dmensi kolom, K30x30, Reinforcement Data, pilih Column

c. Penetapan Penampang Elemen Struktur

1) Pilih elemen balok pada model struktur dengan cara mengkliknya satu satu

2) Pilih menu Assign – Frame/Cable Section, akan muncul kotak dialog Frame Properties

3) Klik pada B35x50 di area Properties, kemudian klik OK maka section akan masuk ke dalam model

clip_image033

4) Ulangi langkah serupa untuk memberikan penampang pada elemen kolom dengan K30x30

clip_image034

clip_image036

d. Penetapan Kondisi Pembebanan

1) Pengaturan jenis pembebanan yang bekerja dilakukan dengan cara pilih menu Define – Load Cases, akan muncul kotak dialog Define Loads, pada kotak Load Name diubah Dead menjadi DL, tipenya DEAD, self wight multiplernya 1, klik Modify Load

clip_image038

2) Ubah DL menjadi LL untuk beban hidup, dengan tipe LIVE, dan self wight multipliernya 0, klik Add New Load

3) Ubah LL menjadi EL, tipe pilih QUAKE, self weight multipliernya 0, klik Add New Load

4) Klik OK

e. Penentuan Beban Pada Struktur

1) Beban Mati

a) Pilih elemen balok (batang nomor 5 dan 7) untuk memasukkan beban mati, pilih menu Assign – Frame Loads – Distributed,

b) Maka akan muncul kotak dialog Frame Distributed Loads, ubah pada kotak dialog Load Case Name menjadi DL, isikan pada kotak Uniform Load sebesar 3, klik Add to Existing Loads pada kotak Options

c) Klik OK

clip_image039

clip_image041

d) Pilih batang nomor 6, lakukan langkah seperti di atas, isikan Uniform Load sebesar 4, klik Add New Loads, klik OK

clip_image042

clip_image044

e) Pilih batang nomor 10, lakukan seperti langkahdi atas, isikan Uniform Load sebesar 2, klik Add New Loads, klik OK

clip_image045

f) Tampilkan model yang menerima beban mati sebagai berikut :

clip_image047

2) Beban Hidup

a) Pilih elemen balok (batang nomor 5 dan 7) untuk memasukkan beban mati, pilih menu Assign – Frame Loads – Distributed,

clip_image048

b) Maka akan muncul kotak dialog Frame Distributed Loads, ubah pada kotak dialog Load Case Name menjadi LL, isikan pada kotak Uniform Load sebesar 2, klik Add to Existing Loads pada kotak Options

c) Klik OK

clip_image050

d) Pilih batang nomor 6, lakukan langkah seperti di atas, isikan Uniform Load sebesar 3, klik Add New Loads, klik OK

clip_image051

clip_image053

e) Pilih batang nomor 10, lakukan seperti langkahdi atas, isikan Uniform Load sebesar 1, klik Add New Loads, klik OK

clip_image054

f) Tampilkan model yang menerima beban mati sebagai berikut :

clip_image056

3) Beban Gempa

a) Pilih joint nomor 5 dan 9 untuk memasukkan beban gempa, pilih menu Assign – Joint Loads – Forces, maka akan tampil kotak dialog Joint Forces

b) Ubah Load Case Name menjadi EL dan isikan pada kotrak Force Global X sebesar 3, klik Add to Existing Loads pada kotak Option,

clip_image057

c) Klik OK

d) Tampilkan model yang menerima beban mati sebagai berikut :

clip_image059

f. Analisis Model

1) Simpan model melalui menu file Save As, ketik nama file yang dikehendaki.

2) Pilih menu Analyze – Set Analyze Option. Pada Fast FDOFs pipil XZ Plane

3) Klik OK

4) Pilih menu Analyze to Run, pada case Name pilih MODAL, klik Run/Do Not Run Case

clip_image061

5) Klik Run Now

6) Model akan dianalisis sampai lengkap

7) Klik OK untuk menutup jendela analisis

clip_image063

8) Maka dilayar monitor akan tampil gambar seperti di bawah ini

clip_image065

g. Penampilan Deformasi Struktur

1) Setelah analisis perhitunga selesai, maka akan dapat diperihatkan struktur yang mengalami deformasi.

2) Pilih menu Display Show Deformed Shape, Load case defaultnya adalah DL, apabila dikehendaki tampilan akibat beban yang lain (LL, EL), tinggal melakkan perubahan pada Case/Combo Name-nya saja tinggal klik

clip_image066

3) Klik OK

4) Untuk melihat besaran gaya yang terjadi pada join, ubah dulu satuan dalam kN,mm, C

5) Klik pada joint yang dikendaki, lalu klik kanan dan biarkan pointer menunjuk pada jointnya, maka akan terlihat seperti gambar di bawah ini

clip_image068

h. Penampilan Gaya-Gaya Dalam

Hasil perhitungan analisis, akan dihasilkan gaya-gaya dalam berupa momen, gaya lintang, gaya normal, puntir, dan reaksi perletakan. Untuk menampilkan gaya-gaya dalam, piih menu Display – Show Forces/Stresses – Frame/Cable, piih gaya dalamyang akan ditampilkan.

clip_image070

clip_image072

i. Pemeriksaan Tegangan Elemen

1) Piih menu Option – Preference – Concrete Design, maka akan ditampilkan kotak dialog Concrete Frame Design Frame for ACI 318-99, agar sesuai dengan SkSNI ’91 ubahlah koefisien – koefisiennya menjadi :

clip_image074

clip_image076

2) Klik OK

3) Pilih menu Design – Concrete Frame Design – Strat Design/Check Strukture, akan ditampilkan floating window yang memperlihatkan informasi tentang perancangan dan kontrol tegangan baja di sepanjang elemen

clip_image078

4) Klik kanan pada salah satu elemen, maka akan muncul Concrete Beam Design Information

clip_image079

5) Untuk mengetahui hasil perhitungan secara detail klik pada tombol Flex Detail. Perhatikan Unit yang dipilih

6) Tampilan informasi detail dari hasil perhitungan pada elemen

clip_image081

7) Bila dilihat untuk nilai fy dan fys-nya belum sesuai maka harus dirubah dengan jalan di Save terlebih dahulu

8) Klik File – Export – SAP2000 .s2k text file

clip_image082

clip_image084

9) Pilihpada bagian Material Properti

10) Klik OK

clip_image085

11) Klik Save

12) Buka jendela Windoww Explorer, cari file yg disimpan tadi ( contoh soal5.s2k ) klik kanan – Open With – WordPad

clip_image086

13) Klik WordPad maka akan tampil jendela text editor berpa WordPad, ganti nilai fy = 400000 pada Material Properties 03a maupun 03B

clip_image087

14) Klik save

15) Tutup WordPad-nya

16) Pergi ke SAP 2000, klik File – Import – SAP2000 V8 to V11 .s2k Text File

clip_image088

17) Muncul kotak dialog Import Tabular Database, pilih yang Add to Existing model

clip_image089

18) Klik OK maka akan tampil kotak dialog seperti di bawah ini

clip_image090

19) Pilih nama file yang sudah di edit tadi, klik open, maka akan muncul kotak dialog Acces Database Import Log

clip_image092

20) Klik Done

21) Ulangi langkah nomor 3 sampai nomor 5 untuk melihat kembali Tampilan informasi detail dari hasil perhitungan pada elemen, maka nilai fy dan fys sudah berubah, lihat gambar bawah

clip_image094

Menghitung contoh Struktur Jembatan Baja dengan SAP 2000 V.11

clip_image002[6]

Diketahui seatu jembatan rangka baja dengan data sebagai berikut :

· Bentang 6 x 6,0 m, tinggi 5,0 m

· Profil yang digunakan IWF 14 x 90

· Fy = 240 Mpa

· Beban yang bekerja adalah beban Mati (DL) dan beban Hidup (LL), dimana berat sendiri struktur sudah termasuk dalam pembebanan

· DL = 100 kN; LL = 400 kN

Penyelesaian :

a. Menentukan Model Struktur

1) Tentukan unit satuan dalam kN,m,C

2) Dari menu File – New Model, dipilih model yang mendekati template yaitu 2D Truss

3) Akan tampil kotak dialog 2D truss Type Sloped Truss, isikan Number of Divisions = 6; Heigh = 5; Devision Lenght = 6

4) Klik OK

5) Model sloped truss yang sudah dimasukkan datanya akan ditampilkan dalam 2 jendela view, aktifkan XZ-View dengan memaximize pada jendela tersebut.

clip_image004

6) Akan terlihat gambar seperti di bawah ini

clip_image006

b. Menentukan Material dan Penampang Struktur

1) Pilih menu Define – Materials sehingga akan tampil kotak dialog Define Materials.

2) Pilih A992Fy50, klik Modify/Show Materials

clip_image007

3) Akan tampil kotak dialog Material Property Data, ubah nilai fy menjadi 240 MPa = 240000

clip_image009

4) Klik OK

5) Klik OK

c. Menentukan Penampang elemen Struktur

1) Pilih semua elemen struktur dengan jalan klik satu-satu elemen atau dengan jalan pilihan windows maupun cross, seperti di materi AutoCAD

2) Pilih menu Assign – Frame – Frame Section

clip_image011

3) Akan tampil kotak dialog Frame Properties, klik Import New Property

clip_image013

4) Akan tampil Frame Section Property, pilih I / Wide Flange

5) Maka kita di suruh memilih file yang akan dipakai untuk memilih jenis baja, pilih jenisAISCLRFD3.pro, klik open

clip_image015

6) Akan tampil pilihan jenis baja, pilih W14x90, klik OK

clip_image017

7) Akan tampil gambar seperti di bawah ini

clip_image019

d. Menetapkan Load Case

1) Pilih menu Define – Load Cases, akan tampil kotak dialog Define Loads

2) Pada kotak dialog Load Name ketik DL dengan Type = DEAD, dan self Weight Multiplier defaultnya 1, pilih Modify Load

3) Ubah DL menjadi LL, pilih type-nya LIVE, klik Add New Load

4) Klik OK

clip_image021

e. Memberikan Beban Pada Model

1) Pilih 5 joint yang akan diberi beban

2) Pilih menu Assign – Joint Loads – Forces, sehingga tampil kotak dialog Joint Forces, pilihLoad Case Name = DL

clip_image022

3) Masukkan angka -100 pada Forces Global Z

4) Pada pilihan Options, klik Add to Existing Loads

5) Klik OK

clip_image024

6) Pilih ulang joint yang sebelumnya sudah terpilih melalui menu Select – Get Previous Selection

7) Pilih menu Assign – Joint Loads – Forces, ubah Load Case Name menjadi LL

clip_image026

8) Masukkan angka -400 pada Forces Global Z

9) Pada pilihan Options, klik Add to Existing Loads

10) Klik OK

clip_image028

f. Menganalisis Model

1) Simpan file dan beri nama

2) Pilih menu Analyze – Set Analysis Options, sehingga akan muncul kotak dialog Analysis Options

clip_image029

3) Pada Fast DOFs pilih Plane Frame (XZ Plane)

4) Klik OK

5) Selanjutnya adalah mengeset aksi pembebanan dengan menonaktifkan Modal, caranya pilih menu Analyze – Set Analysis Cases to Run, akan ditampilkan kotak dialog, pilih MODAL, klik pada tombol Run/Do Not Run Case

clip_image031

6) Klik Run Now, Proses analisis sedang berlangsung

7) Setelah proses selesai akan muncul pesan ANALYSIS COMPLETE, seperti gambar di bawah ini

clip_image033

8) Klik OK, maka akan tampil bentuk struktur terdeformasi, seperti gambar di bawah ini

clip_image035

g. Menampilkan Hasil Analisis

1) Reaksi Perletakan

a) Pilih menu Display – Show Forces/Stresses Joints, akan tampil kotak dialog Joint Reaction Forces

clip_image037

b) Pilih Reaction pada type dan beri tanda ? pada Show as Arrows

c) Klik OK

d) Akan tampil gambar seperti di bawah ini :

clip_image039

2) Gaya Normal, Lintang dan Momen

a) Pilih menu Display – Show Forces/Stresses – Frame, akan ditampilkan kotak dialog Member Forces Diagram for Frames.

b) Pada Component, pilihan Axial untuk menampilkan gaya normal, pilihan Shear 2-2 untuk enampilkan gaya lintang; Moment 3-3 untuk menampilkan gaya momen.

clip_image041

c) Pada Optionts, bila di klik pada Fill Diagram, maka gaya-gaya akan ditampilkan dalam bentuk gambar blok yang berwarna sesuai , bila pada Show Values on Diagram di klik maka nilainya akan ditampilkan dan gambarnya berupa arsiran garis.

clip_image043

Gaya Aksial akibat beban mati

clip_image045

Gaya aksial akibat beban hidup

clip_image047

Gaya lintang akibat beban mati

clip_image049

Gaya lintang akibat beban hidup

clip_image051

Momen akibat beban mati

clip_image053

Momen akibat beban hidup

3) Nilai Displacement

a) Ubah unit satuan ke N, mm, C

b) Klik Display – Show Deformed Shape atau F6

c) Bawa pointer ke salah satu titik joint sehingga akan ditampilkan nilai lendutan / displacement

d) Klik kanan untuk menampilkan nilai displacement dalam bentuk diagram

clip_image055

h. Pemeriksaan Tegangan

1) Pilih menu Option – Preferences – Steel Frame Design, akan tampil kotak diaolog Steel Frame Design Preferences for AICS-LRFD93 sebagai defaulnya.

2) Klik OK

3) Pilih menu Design – Steel Frame Design – Start Design/Check Strukture dan akan tampil gradasi warna yang menunjukkan perbandingan tegangan di setiap elemen struktur.

clip_image057

4) Kllik kanan pada elemen, akan ditampilkan jendela informasi tentang pertancangan dan kontrol tegangan baja di sepanjang element

clip_image059

5) Klik detail untuk mengetahui informsi lebih lengkap

clip_image061

PERHITUNGAN PONDASI

Analisa Data dan Penyelidikan Tanah

Pondasi merupakan struktur bawah yang berfungsi untuk meletakkan bangunan di atas tanah dan meneruskan beban ke tanah dasar. Untuk itu perlu dilaksanakan penyelidikan kondisi tanah pada lokasi yang akan dibangun.

Dari Hasil Tes Boring (Boring Log)

  • Kedalaman ±0,00 m s/d -0,20 m berupa tanah urugan batu dan sirtu.
  • Kedalaman -0,20 m s/d -3,00 m lapisan tanah berupa jenis lempung kelanauan berwarna abu-abu.
  • Kedalaman -3,00 m s/d -5,00 m lapisan tanah berupa pasir kelanauan berwarna abu-abu.
  • Kedalaman selanjutnya berupa lempung berwarna abu-abu.

Dari Hasil Tes Sondir

Sondir dilakukan pada lima titik sondir, dengan hasil sebagai berikut:

  • - Titik sondir 1 (S1) tanah keras (qc = 55 kg/cm2) di kedalaman -18,60 m.
  • - Titik sondir 2 (S2) tanah keras (qc = 50 kg/cm2) di kedalaman -18,60 m.
  • - Titik sondir 3 (S3) tanah keras (qc = 50 kg/cm2) di kedalaman -19,60 m.
  • - Titik sondir 4 (S4) tanah keras (qc = 50 kg/cm2) di kedalaman -18,60 m.
  • - Titik sondir 5 (S5) tanah keras (qc = 50 kg/cm2) di kedalaman -19,40 m.

Dilihat dari lima macam analisa data tanah di atas, maka lapisan tanah keras yang paling dalam yaitu pada kedalaman -19,60 m berupa tanah lempung kelanauan berwarna abu-abu.

Pemilihan Jenis Pondasi

Dalam merencanakan suatu struktur bawah dari konstruksi bangunan dapat digunakan beberapa macam tipe pondasi, pemilihan tipe pondasi didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

  • Fungsi bangunan atas
  • Besarnya beban dan berat dari bangunan atas
  • Keadaan tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan
  • Jumlah biaya yang dikeluarkan

Pemilihan tipe pondasi dalam perencanaan ini tidak terlepas dari hal-hal tersebut di atas. Dari pertimbangan hasil penyelidikan tanah dari aspek ketinggian gedung dan beban dari struktur di atasnya, maka jenis pondasi yang digunakan adalah pondasi tiang pancang dengan penampang bebentuk lingkaran.

Adapun spesifikasi dari tiang pancang tersebut adalah:

  • Mutu beton (f’c) = 25 Mpa
  • Mutu baja (fy) = 400 Mpa
  • Ukuran = ø 50 cm
  • Luas penampang = 1962,5 cm2
  • Keliling = 157 cm

Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang

Berdasarkan Kekuatan Bahan

Tegangan tekan beton yang diijinkan yaitu:

σb = 0,33 . f’c ; f’c =25 Mpa = 250 kg/cm2

σb = 0,33 . 250 = 82,5 kg/cm2

Ptiang = σb . Atiang

Ptiang = 82,5 . 1962,5 = 161906,25 kg = 161,906 t

dimana: Ptiang = Kekuatan pikul tiang yang diijinkan

σb = Tegangan tekan tiang terhadap penumbukan

Atiang = Luas penampang tiang pancang

Berdasarkan Hasil Sondir

Daya dukung tiang dihitung dengan formula sebagai berikut:

clip_image002

Dimana: qc = Nilai konus hasil sondir (kg/cm2)

Ap = Luas permukaan tiang (cm2)

Tf = Total friction (kg/cm)

As = Keliling tiang pancang (cm)

Data hasil sondir S3 untuk kedalaman -19,60 m, didapatkan:

Ø qc = 50 kg/cm2

Ø Tf = 1376 kg/cm

Ptiang = clip_image004

= 75914,733 kg= 75,915 t

Sehingga daya dukung yang menentukan adalah daya dukung berdasrkan data sondir, Ptiang = 75,915 t ~ 76 t.

Menentukan Jumlah Tiang Pancang

Untuk menentukan jumlah tiang pancang yang dibutuhkan digunakan rumus acuan sebagai berikut:

clip_image002[1]

Dimana: n = jumlah tiang pancang yang dibutuhkan

P = gaya vertikal (t)

Ptiang = daya dukung 1 tiang (t)

clip_image004[1]

Gambar 4.37 Denah Pondasi

Tabel 4.39 Perhitungan Jumlah Tiang Pancang

Tiang

P(t)

Ptiang (t)

n

Pembulatan

P1

139.897

76

1.841

6

P2

244.489

76

3.217

6

P3

221.046

76

2.909

4

P4

182.926

76

2.407

6

P5

155.869

76

2.051

6

P6

223.195

76

2.937

4

P7

337.106

76

4.436

9

P8

307.909

76

4.051

6

P9

294.281

76

3.872

6

P10

211.856

76

2.788

6

P11

220.124

76

2.896

4

P12

318.799

76

4.195

6

P13

218.344

76

2.873

6

P14

182.241

76

2.398

4

P15

213.336

76

2.807

4

P16

196.017

76

2.579

4

P17

133.608

76

1.758

4

P18

234.393

76

3.084

6

P19

282.346

76

3.715

6

P20

185.102

76

2.436

4

P21

130.565

76

1.718

4

P22

230.095

76

3.028

6

P23

270.542

76

3.560

6

P24

160.972

76

2.118

4

P25

136.840

76

1.801

4

P26

241.257

76

3.174

6

P27

289.285

76

3.806

6

P28

157.370

76

2.071

4

P29

95.562

76

1.257

4

P30

146.670

76

1.930

4

P31

167.866

76

2.209

4

P32

96.012

76

1.263

4

Menghitung Efisiensi Kelompok Tiang Pancang

clip_image006

dimana: m = Jumlah baris

n = Jumlah tiang satu baris

Ө = Arc tanclip_image008 dalam derajat

d = Diameter tiang (cm)

S = Jarak antar tiang (cm)

Ø syarat jarak antar tiang

clip_image010 atau clip_image012

Ø syarat jarak tiang ke tepi

clip_image014

Tipe-tipe poer (pile cap) yang digunakan dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

clip_image016

Gambar 4.38 Tipe Pondasi

Tabel 4.40 Perhitungan Efisiensi Kelompok Tiang

Poer

d (cm)

S (cm)

m

n

q

clip_image018

clip_image020

efisiensi

P1

50

125

2

2

21.801

0.242

1.000

0.758

P2

50

125

2

3

21.801

0.242

1.167

0.717

P3

50

125

3

3

21.801

0.242

1.333

0.677

Tabel 4.41 Perhitungan Daya Dukung Kelompok Tiang

Poer

efisiensi

Ptiang (ton)

satu tiang (ton)

jumlah tiang

daya dukung group (ton)

cek

Tipe 1

0.758

76

57.590

4

230.360

> 223.195 ton

Tipe 2

0.717

76

54.522

6

327.129

> 318.799 ton

Tipe 3

0.677

76

51.453

9

463.079

> 337.106 ton

Perhitungan Beban Maksimum Yang Diterima Oleh Tiang

clip_image022

dimana:

Pmak = Beban maksimum yang diterima oleh tiang pancang (t)

SPv = Jumlah total beban (t)

Mx = Momen yang bekerja pada bidang yang tegak lurus sumbu x ™

My = Momen yang bekerja pada bidang yang tegak lurus sumbu y ™

n = Banyaknya tiang pancang dalam kelompok tiang pancang (pile group)

Xmak = Absis terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang

Ymak = Ordinat terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang

nx = Banyaknya tiang pancang dalam satu baris dalam arah sumbu x

ny = Banyaknya tiang pancang dalam satu baris dalam arah sumbu y

Sx2 = Jumlah kuadrat absis-absis tiang pancang (m2)

Sy2 = Jumlah kuadrat ordinat-ordinat tiang pancang (m2)

Pondasi Tipe 1

clip_image024

Beban maksimum yang diterima pada pondasi tipe 1

SPv = 223,195 t

Mx = 1,671 tm

My = 0,455 tm

Xmak = 62,5 cm = 0,625 m

Ymak = 62,5 cm = 0,625 m

Sx2 = (0,6252) + (0,6252)

= 0,781 m2

Sy2 = (0,6252) + (0,6252)

= 0,781 m2

n = 4

nx = 2

ny = 2

Pmak = clip_image026

= 56,649 t …< P1 tiang = 57,590 t

Pondasi Tipe 2

Beban maksimum yang diterima pada pondasi tipe 2

clip_image028

SPv = 318,799 t

Mx = 0,096 tm

My = 0,058 tm

Xmak = 125 cm = 1,25 m

Ymak = 62,5 cm = 0,625 m

Sx2 = (1,252) + (1,252)

= 3,125 m2

Sy2 = (0,6252) + (0,6252)

= 0,781 m2

n = 6

nx = 3

ny = 2

Pmak = clip_image030

= 53,179 t …< P1 tiang = 54,522 t

Pondasi Tipe 3

Beban maksimum yang diterima pada pondasi tipe 3

clip_image032

SPv = 337,106 t

Mx = 0,022 tm

My = 2,062 tm

Xmak = 125 cm = 1,25 m

Ymak = 125 cm = 1,25 m

Sx2 = (1,252) + (1,252)

= 3,125 m2

Sy2 = (1,252) + (1,252)

= 3,125 m2

n = 9

nx = 3

ny = 3

Pmak = clip_image034

= 37,734 t …< P1 tiang = 51,453 t

Kontrol Terhadap Geser Pons

4.8.7.1 Pile Cap Tipe 1 dan Tipe 2

Karena kolom tidak tertumpu pada pile, maka P yang diperhitungkan adalah P kolom.

P = 318,799 t

h = 0,7 m

t = clip_image036

= clip_image038

= 87,582 t/m2

= 8,76 kg/cm2 < 10,28 kg/cm2

t < t ijin =clip_image040 (tebal pile cap cukup, sehingga tidak memerlukan tulangan geser pons).

4.8.7.2 Pile Cap Tipe 3

Karena kolom tertumpu pada pile, maka P yang diperhitungkan adalah P tiang pancang.

P = 37,734 t

h = 0,7 m

t = clip_image042

= clip_image044

= 14,31 t/m2

= 1,431 kg/cm2 < 10,28 kg/cm2

t < t ijin = clip_image040[1] (tebal pile cap cukup, sehingga tidak memerlukan tulangan geser pons).

Penulangan Tiang Pancang

Penulangan tiang pancang dihitung berdasarkan kebutuhan pada waktu pengangkatan tersebut ada dua kondisi, yaitu satu tumpuan dan dua tumpuan.

Kondisi I (Dua Tumpuan)

clip_image046

Gambar 4. 39 Kondisi Pengangkatan 1 dan Momen yang Ditimbulkan

clip_image048

clip_image050

clip_image052

clip_image054

clip_image056

Dimana: q = Berat tiang pancang

= clip_image058 = 471 kg/m

L = 6 m

clip_image060

clip_image062

clip_image064

clip_image066

Didapatkan: a = clip_image068

= 1,243 m

M1 = clip_image070

= clip_image072

= 363,86 kgm

Dmak = clip_image074

= clip_image076

= 1413 kg

Kondisi II (Satu Tumpuan)

clip_image078

Gambar 4.40 Kondisi Pengangkatan 2 dan Momen yang Ditimbulkan

clip_image080

clip_image082

clip_image084

clip_image086

clip_image088 ® clip_image090

clip_image092

clip_image094

clip_image096

clip_image098

clip_image052[1]

clip_image101

clip_image103

Maka:

clip_image105

clip_image107

clip_image109

Didapatkan: a = clip_image111

= 1,75 m

M1 = clip_image070[1]

= clip_image113

= 721,219 kgm

D1 = clip_image115

= clip_image117

= 831,176 kg

Dari kedua kondisi di atas diambil yang paling menentukan yaitu:

M = 721,219 kgm

D = 1413 kg

clip_image119

Gambar 4.41 Penampang Tiang Pancang

Data yang digunakan:

- Dimensi tiang = ø 50 cm

- Berat jenis beton = 2,4 t/m3

- f’c = 25 Mpa

- fy = 400 Mpa

- h = 500 mm

- p = 70 mm

- øtulangan = 22 mm

- øsengkang = 8 mm

- d = h – p – øsengkang – ½ øtulangan

= 500 – 70 – 8 – 11 = 411 mm

- d’ = p + øsengkang + ½ øtulangan

= 70 + 8 + 11 = 89 mm

4.8.8.3 Tulangan Memanjang Tiang Pancang

Mu = 721,219 kgm = 7,212 kNm

clip_image121 kN/m2

clip_image123

clip_image125

clip_image127

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,00027

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image129

clip_image131

karena ρ < ρmin maka dipakai ρmin

As = ρ.b.d. 106

= 0,0035 . 0,500 . 0,411 . 106

= 719,25 mm2

Digunakan tulangan 2D22 (As = 760 mm2)

Cek Terhadap Tekuk

Dianggap kedua ujung sendi, diperoleh harga k = 1

r = 0,3 . h = 0,3 . 500 = 150 mm

clip_image133

clip_image135 (K > 20 maka kelangsingan diperhitungkan)

clip_image137

clip_image139

Ec = 4700 (f’c)0.5 = 23500 Mpa

clip_image141

clip_image143

Pu = 56,649 T = 566,49 KN

clip_image145

clip_image147

clip_image149

clip_image151

clip_image153

clip_image155

clip_image157

clip_image159

clip_image161

clip_image163

a < ab, dipakai rumus

clip_image165

clip_image167

Digunakan As min 1% Ag = 0,01.(1/4.π.(500)2) = 1962,5 mm

Digunakan tulangan 6 D 22 ( Asterpasang = 2281 mm2 )

Penulangan Geser Tiang Pancang

Vu = 1413 kg = 14130 N

Vn = clip_image169 N

Vc = clip_image171 N

Periksa vu > fvc:

vu = clip_image173 MPa

vc = clip_image175 MPa

fvc = 0,6 x 0,8333 = 0,50

vu < fvc Þ dipakai tulangan praktis

Digunakan tulangan sengkang ø8 – 200.

clip_image177

Gambar 4.42 Penulangan Tiang Pancang

Penulangan Pile Cap

Pile Cap Tipe 1

Penulangan didasarkan pada:

P1 = Pmak = 56,649 t

Mx = My = clip_image179 = 35,406 tm

Penulangan Arah x

clip_image181

Mu = 35,406 tm = 354,06 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 16 mm

Tinggi efektif arah x (dx) = h – p – ½ øD

= 700 – 70 – ½ .16

= 622 mm

clip_image183 kN/m2

clip_image123[1]

clip_image186

clip_image188

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,00294

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190

clip_image192

ρ < ρmin maka dipakai ρmin

As = ρ.b.d.106

= 0,0035 . 1 . 0,622 . 106

= 2177mm2

Dipakai tulangan D16 – 75 (As terpasang = 2681 mm2)

Penulangan Arah y

Mu = 35,406 tm = 354,06 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 16 mm

Tinggi efektif arah y (dy) = h – p – Dx – ½ øD

= 700 – 70 – 16 – ½ .16

= 606 mm

clip_image194 kN/m2

clip_image123[2]

clip_image196

clip_image198

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,0031

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190[1]

clip_image192[1]

ρ < ρmin maka dipakai ρmin

As = ρ.b.d.106

= 0,0035 . 1 . 0,606 . 106

= 2121mm2

Dipakai tulangan D16 – 75 (As terpasang = 2681 mm2)

Pile Cap Tipe 2

clip_image200

Penulangan didasarkan pada:

P1 = Pmak = 53,179 t

Mx = clip_image202 = 66,474 tm

My = clip_image204 = 33,237 tm

Penulangan Arah x

Mu = 66,474 tm = 664,74 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 19 mm

Tinggi efektif arah x (dx) = h – p – ½ øD

= 700 – 70 – ½ .19

= 620,5 mm

clip_image206 kN/m2

clip_image123[3]

clip_image208

clip_image210

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,0057

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190[2]

clip_image192[2]

ρmin < ρ < ρmax maka dipakai ρ

As = ρ.b.d.106

= 0,0057 . 1 . 0,6205. 106

= 3538,62 mm2

Dipakai tulangan D19 – 75 (As terpasang = 3780 mm2)

Penulangan Arah y

Mu = 33,237 tm = 332,37 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 19 mm

Tinggi efektif arah y (dy) = h – p – Dx – ½ øD

= 700 – 70 – 19 – ½ .19

= 601,5 mm

clip_image213 kN/m2

clip_image123[4]

clip_image215

clip_image217

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,00295

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190[3]

clip_image192[3]

ρ < ρmin maka dipakai ρmin

As = ρ.b.d.106

= 0,0035 . 1 . 0,6015. 106

= 2105,25 mm2

Dipakai tulangan D19 – 125 (As terpasang = 2268 mm2)

clip_image219

Pile Cap Tipe 3

Penulangan didasarkan pada:

P1 = Pmak = 37,734 t

Mx = My = clip_image221 = 47,168 tm

Penulangan Arah x

Mu = 47,168 tm = 471,68 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 19 mm

Tinggi efektif (d) = h – p – ½ øD

= 700 – 70 – ½ .19

= 620,5 mm

clip_image223 kN/m2

clip_image123[5]

clip_image225

clip_image227

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,00398

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190[4]

clip_image192[4]

ρmin < ρ < ρmax maka dipakai ρ

As = ρ.b.d.106

= 0,00398 . 1 . 0,6205 . 106

= 2467,68 mm2

Dipakai tulangan D19 – 100 (As terpasang = 2835 mm2)

Penulangan Arah y

Mu = 47,168 tm = 471,68 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 19 mm

Tinggi efektif arah y (dy) = h – p – Dx – ½ øD

= 700 – 70 – 19 – ½ .19

= 601,5 mm

clip_image229 kN/m2

clip_image123[6]

clip_image231

clip_image233

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,00424

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190[5]

clip_image192[5]

ρmin < ρ < ρmax maka dipakai ρ

As = ρ.b.d.106

= 0,00424 . 1 . 0,6015 . 106

= 2553,06 mm2

Dipakai tulangan D19 – 100 (As terpasang = 2835 mm2)

Perhitungan Tie Beam

clip_image235

Ukuran sloof 600 x 400 cm

Data tanah: – f = 29,326o

- c = 0,115 kg/cm2 = 1,15 t/m2 = 11,5 kPa

- g = 1,758 t/m3

Tanah tersebut didefinisikan sebagai tanah sangat lunak karena c < 18 kPa, sehingga untuk menghitung qu digunakan rumus sebagai berikut:

qu = clip_image237

c’ = clip_image239 t/m2

go = clip_image241 = clip_image243= 17,246 t/m3

Dari tabel faktor kapasitas dukung tanah (Terzaghi), diperoleh:

f = 29,326o ® – Nc’ = 18,4

- Nq’ = 7,9

- Ng’ = 5,4

qu = clip_image245

= 16,185 t/m2

Berat sendiri = clip_image247 = 0,576 t/m

q = clip_image249 = 7,054 t/m

Perhitungan Gaya Dalam

clip_image251

Gambar 4.43 Denah Tie Beam

Perhitungan gaya dalam untuk S1

- Perhitungan momen

Mtump = clip_image253 = clip_image255 = 26,388 tm

Mlap = clip_image257 = clip_image259 = 13,194 tm

- Perhitungan gaya lintang

Dtump = clip_image261 = clip_image263 = 23,631 t

Dlap = D berjarak 1/5L dari ujung balok

= clip_image265 = 14,179 t

Untuk perhitungan gaya dalam tie beam lainnya ditabelkan sebagai berikut:

Tabel 4.42 Gaya Dalam pada Tie Beam

Sloof

L

(m)

0.5*L

1/5*L

q

(kg/m)

Momen

Gaya Lintang

Mtump

(kgm)

Mlap.

(kgm)

Tump.

(kg)

Lap.

(kg)

S1

6.7

3.35

1.340

7.054

26.388

13.194

23.631

14.179

S2

5.45

2.725

1.090

7.054

17.460

8.730

19.222

11.533

S2

5.25

2.625

1.050

7.054

16.202

8.101

18.517

11.110

S3

8

4

1.600

7.054

37.621

18.811

28.216

16.930

S4

6

3

1.200

7.054

21.162

10.581

21.162

12.697

S5

3.5

1.75

0.700

7.054

7.201

3.600

12.345

7.407

S5

2.75

1.375

0.550

7.054

4.445

2.223

9.699

5.820

S5

2.5

1.25

0.500

7.054

3.674

1.837

8.818

5.291

Perhitungan Penulangan Tie Beam

Penulangan S1

a) Tulangan Lentur

M tump = 26,388 kgm = 263,88 kNm

M lap = 13,194 kgm = 131,94 kNm

Tinggi sloof (h) = 600 mm

Lebar sloof (b) = 400 mm

Penutup beton (p) = 40 mm

Diameter tulangan (D) = 22 mm

Diameter sengkang (ø) = 10 mm

Tinggi efektif (d) = h – p – ø – ½ D

= 600 – 40 – 10 – ½ . 22

= 539 mm

d’ = p + ø + ½ D

= 40 + 12 + ½ . 22

= 61 mm

f’c = 25 Mpa

fy = 400 Mpa

Tulangan Tumpuan

Mu = 263,88 kNm

clip_image267 kN/m2

clip_image123[7]

clip_image269

clip_image271

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,0076

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image129[1]

clip_image131[1]

karena ρmin < ρ < ρmax maka dipakai ρ

Dipakai tulangan tekan 2D22 (As terpasang = As2 = 760 mm2)

As1 = ρ.b.d.106

= 0,0076 . 0,40 . 0,539 . 106

= 1648,490 mm2

As = As1 + As2

= 1630,835 + 760

= 2408,490 mm2

Digunakan tulangan tarik 7D22 (As = 2661 mm2)

Tulangan Lapangan

Mu = 13,194 kNm

clip_image273 kN/m2

clip_image123[8]

clip_image275

clip_image277

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,0037

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image129[2]

clip_image131[2]

karena ρmin < ρ < ρmax maka dipakai ρ

Dipakai tulangan tekan 2D22 (As terpasang = As2 = 760 mm2)

As1 = ρ.b.d.106

= 0,0037 . 0,40 . 0,544 . 106

= 792, 349 mm2

As = As1 + As2

= 792, 349 + 760

= 1552,349 mm2

Digunakan tulangan tarik 5D22 (As = 1901 mm2)

Periksa lebar balok

Maksimal tulangan yang hadir sepenampang adalah 7D22, dengan posisi 2 lapis (5D22 untuk lapis dasar dan 2D22 untuk lapis kedua)

Jarak minimum tulangan yang disyaratkan adalah 25 mm.

Lebar balok minimum:

2 x p = 2 x 40 = 80 mm

2 x ø sengkang = 2 x 10 = 20 mm

5 x D22 = 5 x 22 = 110 mm

4 x jrk min tul = 4 x 25 = 100 mm

Total = 310 mm

Jadi lebar balok sebesar 400 mm cukup memadai.

b) Tulangan Geser

Tulangan Geser Tumpuan

Vu = 23,631 t = 236309,00 N

Vn = clip_image279 MPa

Vc = clip_image281 MPa

Vs = Vn – Vc = 393848,33 – 179666,67 = 214181,67 N

Periksa vu > fvc:

vu = clip_image283 MPa

vc = clip_image175[1] MPa

fvc = 0,6 x 0,8333 = 0,50

vu < fvc Þ perlu tulangan geser

Periksa fvs > fvs mak:

fvs = vu – fvc = 1,096 – 0,50 = 0,596 Mpa

f’c = 25 MPa → fvs maks = 2,00 (Tabel nilai fvs maks, CUR 1 hal 129)

fvs > fvs mak Þ OK

Perencanaan sengkang

clip_image285 mm2

Digunakan tulangan sengkang ø = 10 mm, luas dua kaki As = 557 mm2

clip_image287 mm

smax = clip_image289 mm

Digunakan tulangan sengkang ø 10 – 150.

Sengkang minimum perlu = clip_image291 mm2

Luas sengkang terpasang 157 mm2 > 50 mm2

Tulangan sengkang ø10 – 150 boleh dipakai.

Tulangan Geser Lapangan

Vu = 14,178540 t = 141785,40 N

Vn = clip_image293 MPa

Vc = clip_image281[1] MPa

Vs = Vn – Vc = 236309,00 – 179666,67 = 56642,33 N

Periksa vu > fvc:

vu = clip_image296 MPa

vc = clip_image175[2] MPa

fvc = 0,6 x 0,8333 = 0,50

vu < fvc Þ perlu tulangan geser

Periksa fvs > fvs mak:

fvs = vu – fvc = 0,658 – 0,50 = 0,158 Mpa

f’c = 25 MPa → fvs maks = 2,00 (Tabel nilai fvs maks, CUR 1 hal 129)

fvs > fvs mak Þ OK

Perencanaan sengkang

clip_image299 mm2

Digunakan tulangan sengkang ø = 10 mm, luas dua kaki As = 157 mm2

clip_image301 mm

smax = clip_image289[1] mm

Digunakan tulangan sengkang ø 10 – 250.

Sengkang minimum perlu = clip_image304 mm2

Luas sengkang terpasang 226 mm2 > 83,33 mm2

Tulangan sengkang ø10 – 250 boleh dipakai.

clip_image306

Perbandingan Kuat Tekan Beton

Dalam perancangan komponen struktur beton bertulang, beton diasumsikan hanya menerima beban tekan saja. Dengan demikian, mutu beton selalu dikaitkan dengan kemampuannya dalam memikul beban tekan (atau istilahnya kuat tekan).

Penentuan kuat tekan beton dapat diperoleh melalui pengujian tekan di laboratorium. Benda uji yang digunakan biasanya adalah:

  1. Benda uji silinder diameter 150 mm x tinggi 300 mm (ASTM C-39)
  2. Benda uji kubus ukuran 150 mm (BS-1881)

Kuat beton yang diperoleh dari benda uji silinder berbeda dengan kuat beton yang diperoleh dari benda uji kubus. Ada beberapa referensi yang memberikan hubungan antara kuat tekan silinder dengan kuat tekan kubus.

a. Menurut A.M. Neville, “Properties of Concrete”, 3rd Edition, Pitman Publishing, London, 1981.

Kuat tekan silinder (MPa) 7,00 15,50 20,00 24,50 27,00 34,50 37,00 41,50 45,00 51,50
Kuat tekan kubus (MPa) 9,21 20,13 24,69 28,16 29,67 37,10 39,36 43,68 46,88 53,65
Ratio silinder / kubus 0,76 0,77 0,81 0,87 0,91 0,93 0,94 0,95 0,96 0,96

b. Menurut ISO Standard 3893–1977 (E)

Kuat tekan silinder (MPa) 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 16,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 45,00 50,00
Kuat tekan kubus (MPa) 2,50 5,00 7,50 10,00 12,50 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 45,00 50,00 55,00
Ratio silinder / kubus 0,80 0,80 0,80 0,80 0,80 0,80 0,80 0,80 0,83 0,86 0,88 0,89 0,90 0,91

c. Menurut BS.1881

Rasio kubus / silinder = 1,25 untuk semua kelas mutu

Di samping itu, kadang-kadang dipakai juga benda uji silinder yang memiliki diameter yang berbeda dengan standar, namun perbandingan antara diameter dengan tingginya tetap diusahakan 1:2. Benda uji dengan diameter lebih kecil seringkali digunakan untuk pengujian beton dengan kuat tekan yang sangat tinggi (di atas 50 MPa) supaya kapasitas alat uji yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Korelasi kuat tekan untuk masing-masing dimensi benda uji dapat dilihat pada tabel di bawah ini (Ref “Concrete Manual”, United States Bureau of Reclamation, 7th Edition, 1963).

Ukuran silinder (mm) 50 x 100 75 x 150 150 x 300 200 x 400 300 x 600 450 x 900 600 x 1200 900 x 1800
Kuat tekan relatif 1,09 1,06 1,00 0,96 0,91 0,86 0,84 0,82

Untuk benda uji silinder dengan perbandingan tinggi terhadap diameter (L/D) yang berbeda harus dikoreksi sesuai tabel di bawah ini (Ref ASTM C-42).

Ratio (L/D) 2 1,75 1,5 1,25 1,1 1 0,75 0,5
Faktor koreksi kekuatan 1,00 0,98 0,96 0,94 0,90 0,85 0,70 0,50
Kuat tekan relatif thd silinder standar 1,00 1,02 1,04 1,06 1,11 1,18 1,43 2,00

Sumber :http://aguzher.wordpress.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.