• Blog Stats

    • 55,123 Pengunjung
  • Kategori Tulisan

  • RSS Komunitas Mahasiswa Teknik Sipil USM Kelas Karyawan

    • Peringatan BPOM tentang Kantong Plastik Makanan
      Kepada semua pengunjung website yang tercinta mohon bisa disebarkan ke rekan-rekan, saudara ataupun tetangga yang ada di sekitarmu informasi yang bermanfaat ini. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas kunjungannya.
    • Pekerjaan Pile Cap dan Tie Beam pada Gedung Baru Universitas Semarang
      Setelah proses pemancangan selesai dilanjutkan dengan pemotongan tiang pancang dan dilanjutkan dengan pekerjaan pile cap dan Tie beam Pekerjaan ini merupakan pekerjaan awal dari stuktur atas (upper structure) setelah pekerjaan struktur bawah (sub structure) selesai dilaksanakan. Semua bahan yang digunakan untuk pekerjaan ini harus memenuhi ketentuan‑ketentua […]
    • Pekerjaan Pondasi Tiang Pancang Pembangunan Gedung Baru Universitas Semarang
      Pondasi merupakan bagian paling bawah dari suatu konstruksi yang mempunyai fungsi untuk meneruskan beban konstruksi ke dalam lapisan tanah yang berada di bawah pondasi. Suatu perencanaan pondasi dikatakan benar apabila beban yang diteruskan oleh pondasi ke dalam tanah tidak melampaui kekuatan tanah yang bersangkutan. Apabila kekuatan tanah dilampaui maka aka […]
    • Mengitung Portal Beton Bertulang menggunakan SAP 2000 V.11
      Diketahui struktur portal dari beton f’c = 20 Mpa bekerja beban mati (DL), beban hidup (LL), dan beban gempa (EL) seperti pada gambar, dimensi balok 35 x 50 cm2, dan kolom 30 x 30 cm2, Penyelesaian : a. Menentukan Model Struktur 1) Tetapkan unti satuan ke kN.m.C 2) Pilih menu File – New Model, pada […]
    • Menghitung contoh Struktur Jembatan Baja dengan SAP 2000 V.11
      Diketahui seatu jembatan rangka baja dengan data sebagai berikut : · Bentang 6 x 6,0 m, tinggi 5,0 m · Profil yang digunakan IWF 14 x 90 · Fy = 240 Mpa · Beban yang bekerja adalah beban Mati (DL) dan beban Hidup (LL), dimana berat sendiri struktur sudah termasuk dalam pembebanan · DL = […]
    • PERHITUNGAN PONDASI
      Analisa Data dan Penyelidikan Tanah Pondasi merupakan struktur bawah yang berfungsi untuk meletakkan bangunan di atas tanah dan meneruskan beban ke tanah dasar. Untuk itu perlu dilaksanakan penyelidikan kondisi tanah pada lokasi yang akan dibangun. Dari Hasil Tes Boring (Boring Log) Kedalaman ±0,00 m s/d -0,20 m berupa tanah urugan batu dan sirtu. Kedalaman […]
    • Perbandingan Kuat Tekan Beton
      Dalam perancangan komponen struktur beton bertulang, beton diasumsikan hanya menerima beban tekan saja. Dengan demikian, mutu beton selalu dikaitkan dengan kemampuannya dalam memikul beban tekan (atau istilahnya kuat tekan). Penentuan kuat tekan beton dapat diperoleh melalui pengujian tekan di laboratorium. Benda uji yang digunakan biasanya adalah: Benda uji […]
    • indeks harga satuan pekerjaan pondasi
      6.1 Memasang 1 m3 pondasi batu belah, campuran 1 PC : 3 PP 6.2 Memasang 1 m3 pondasi batu belah, campuran 1 PC : 4 PP 6.3 Memasang 1 m3 pondasi batu belah, campuran 1 PC : 5 PP 6.4 Memasang 1 m3 pondasi batu belah, campuran 1 PC : 6 PP 6.5 Memasang 1 […]
    • Output gaya – gaya dalam pada Program SAP 2000
      Gaya – gaya dalam yang dihasilkan dari analisis struktur pada program SAP 2000 antara lain : 1) Gaya Normal / axial (P) 2) Gaya geser / lintang pada bidang 1-2 / shear (V2) 3) Gaya geser / lintang pada bidang 1-3 / shear (V3) 4) Momen puntir / torsion (T) 5) Momen pada bidang 1-3 […]
    • KKL Mahasiswa Kelas Sore Tahun 2009
      PAda tanggal 20 Februari 2009 Mahasiswa Teknik Sipil Kelas Sore mengadakan KKL ke Waduk Gajah Mungkur Wonogiri Sebelum Berangkat mendapat pengarahan dari Ketua Jurusan Teknik Sipil yaitu Bp. Purwanto, ST, MT Setekah mendapatkan pengarahan dari kajur Teknik Sipil kurang lebih 15 menit, langsung menuju bis berangkat meluncur ke Wonogiri, sampai di solo jam 9 p […]
  • Administrator

PERHITUNGAN PONDASI

Analisa Data dan Penyelidikan Tanah

Pondasi merupakan struktur bawah yang berfungsi untuk meletakkan bangunan di atas tanah dan meneruskan beban ke tanah dasar. Untuk itu perlu dilaksanakan penyelidikan kondisi tanah pada lokasi yang akan dibangun.

Dari Hasil Tes Boring (Boring Log)

  • Kedalaman ±0,00 m s/d -0,20 m berupa tanah urugan batu dan sirtu.
  • Kedalaman -0,20 m s/d -3,00 m lapisan tanah berupa jenis lempung kelanauan berwarna abu-abu.
  • Kedalaman -3,00 m s/d -5,00 m lapisan tanah berupa pasir kelanauan berwarna abu-abu.
  • Kedalaman selanjutnya berupa lempung berwarna abu-abu.

Dari Hasil Tes Sondir

Sondir dilakukan pada lima titik sondir, dengan hasil sebagai berikut:

  • - Titik sondir 1 (S1) tanah keras (qc = 55 kg/cm2) di kedalaman -18,60 m.
  • - Titik sondir 2 (S2) tanah keras (qc = 50 kg/cm2) di kedalaman -18,60 m.
  • - Titik sondir 3 (S3) tanah keras (qc = 50 kg/cm2) di kedalaman -19,60 m.
  • - Titik sondir 4 (S4) tanah keras (qc = 50 kg/cm2) di kedalaman -18,60 m.
  • - Titik sondir 5 (S5) tanah keras (qc = 50 kg/cm2) di kedalaman -19,40 m.

Dilihat dari lima macam analisa data tanah di atas, maka lapisan tanah keras yang paling dalam yaitu pada kedalaman -19,60 m berupa tanah lempung kelanauan berwarna abu-abu.

Pemilihan Jenis Pondasi

Dalam merencanakan suatu struktur bawah dari konstruksi bangunan dapat digunakan beberapa macam tipe pondasi, pemilihan tipe pondasi didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

  • Fungsi bangunan atas
  • Besarnya beban dan berat dari bangunan atas
  • Keadaan tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan
  • Jumlah biaya yang dikeluarkan

Pemilihan tipe pondasi dalam perencanaan ini tidak terlepas dari hal-hal tersebut di atas. Dari pertimbangan hasil penyelidikan tanah dari aspek ketinggian gedung dan beban dari struktur di atasnya, maka jenis pondasi yang digunakan adalah pondasi tiang pancang dengan penampang bebentuk lingkaran.

Adapun spesifikasi dari tiang pancang tersebut adalah:

  • Mutu beton (f’c) = 25 Mpa
  • Mutu baja (fy) = 400 Mpa
  • Ukuran = ø 50 cm
  • Luas penampang = 1962,5 cm2
  • Keliling = 157 cm

Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang

Berdasarkan Kekuatan Bahan

Tegangan tekan beton yang diijinkan yaitu:

σb = 0,33 . f’c ; f’c =25 Mpa = 250 kg/cm2

σb = 0,33 . 250 = 82,5 kg/cm2

Ptiang = σb . Atiang

Ptiang = 82,5 . 1962,5 = 161906,25 kg = 161,906 t

dimana: Ptiang = Kekuatan pikul tiang yang diijinkan

σb = Tegangan tekan tiang terhadap penumbukan

Atiang = Luas penampang tiang pancang

Berdasarkan Hasil Sondir

Daya dukung tiang dihitung dengan formula sebagai berikut:

clip_image002

Dimana: qc = Nilai konus hasil sondir (kg/cm2)

Ap = Luas permukaan tiang (cm2)

Tf = Total friction (kg/cm)

As = Keliling tiang pancang (cm)

Data hasil sondir S3 untuk kedalaman -19,60 m, didapatkan:

Ø qc = 50 kg/cm2

Ø Tf = 1376 kg/cm

Ptiang = clip_image004

= 75914,733 kg= 75,915 t

Sehingga daya dukung yang menentukan adalah daya dukung berdasrkan data sondir, Ptiang = 75,915 t ~ 76 t.

Menentukan Jumlah Tiang Pancang

Untuk menentukan jumlah tiang pancang yang dibutuhkan digunakan rumus acuan sebagai berikut:

clip_image002[1]

Dimana: n = jumlah tiang pancang yang dibutuhkan

P = gaya vertikal (t)

Ptiang = daya dukung 1 tiang (t)

clip_image004[1]

Gambar 4.37 Denah Pondasi

Tabel 4.39 Perhitungan Jumlah Tiang Pancang

Tiang

P(t)

Ptiang (t)

n

Pembulatan

P1

139.897

76

1.841

6

P2

244.489

76

3.217

6

P3

221.046

76

2.909

4

P4

182.926

76

2.407

6

P5

155.869

76

2.051

6

P6

223.195

76

2.937

4

P7

337.106

76

4.436

9

P8

307.909

76

4.051

6

P9

294.281

76

3.872

6

P10

211.856

76

2.788

6

P11

220.124

76

2.896

4

P12

318.799

76

4.195

6

P13

218.344

76

2.873

6

P14

182.241

76

2.398

4

P15

213.336

76

2.807

4

P16

196.017

76

2.579

4

P17

133.608

76

1.758

4

P18

234.393

76

3.084

6

P19

282.346

76

3.715

6

P20

185.102

76

2.436

4

P21

130.565

76

1.718

4

P22

230.095

76

3.028

6

P23

270.542

76

3.560

6

P24

160.972

76

2.118

4

P25

136.840

76

1.801

4

P26

241.257

76

3.174

6

P27

289.285

76

3.806

6

P28

157.370

76

2.071

4

P29

95.562

76

1.257

4

P30

146.670

76

1.930

4

P31

167.866

76

2.209

4

P32

96.012

76

1.263

4

Menghitung Efisiensi Kelompok Tiang Pancang

clip_image006

dimana: m = Jumlah baris

n = Jumlah tiang satu baris

Ө = Arc tanclip_image008 dalam derajat

d = Diameter tiang (cm)

S = Jarak antar tiang (cm)

Ø syarat jarak antar tiang

clip_image010 atau clip_image012

Ø syarat jarak tiang ke tepi

clip_image014

Tipe-tipe poer (pile cap) yang digunakan dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

clip_image016

Gambar 4.38 Tipe Pondasi

Tabel 4.40 Perhitungan Efisiensi Kelompok Tiang

Poer

d (cm)

S (cm)

m

n

q

clip_image018

clip_image020

efisiensi

P1

50

125

2

2

21.801

0.242

1.000

0.758

P2

50

125

2

3

21.801

0.242

1.167

0.717

P3

50

125

3

3

21.801

0.242

1.333

0.677

Tabel 4.41 Perhitungan Daya Dukung Kelompok Tiang

Poer

efisiensi

Ptiang (ton)

satu tiang (ton)

jumlah tiang

daya dukung group (ton)

cek

Tipe 1

0.758

76

57.590

4

230.360

> 223.195 ton

Tipe 2

0.717

76

54.522

6

327.129

> 318.799 ton

Tipe 3

0.677

76

51.453

9

463.079

> 337.106 ton

Perhitungan Beban Maksimum Yang Diterima Oleh Tiang

clip_image022

dimana:

Pmak = Beban maksimum yang diterima oleh tiang pancang (t)

SPv = Jumlah total beban (t)

Mx = Momen yang bekerja pada bidang yang tegak lurus sumbu x ™

My = Momen yang bekerja pada bidang yang tegak lurus sumbu y ™

n = Banyaknya tiang pancang dalam kelompok tiang pancang (pile group)

Xmak = Absis terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang

Ymak = Ordinat terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok tiang

nx = Banyaknya tiang pancang dalam satu baris dalam arah sumbu x

ny = Banyaknya tiang pancang dalam satu baris dalam arah sumbu y

Sx2 = Jumlah kuadrat absis-absis tiang pancang (m2)

Sy2 = Jumlah kuadrat ordinat-ordinat tiang pancang (m2)

Pondasi Tipe 1

clip_image024

Beban maksimum yang diterima pada pondasi tipe 1

SPv = 223,195 t

Mx = 1,671 tm

My = 0,455 tm

Xmak = 62,5 cm = 0,625 m

Ymak = 62,5 cm = 0,625 m

Sx2 = (0,6252) + (0,6252)

= 0,781 m2

Sy2 = (0,6252) + (0,6252)

= 0,781 m2

n = 4

nx = 2

ny = 2

Pmak = clip_image026

= 56,649 t …< P1 tiang = 57,590 t

Pondasi Tipe 2

Beban maksimum yang diterima pada pondasi tipe 2

clip_image028

SPv = 318,799 t

Mx = 0,096 tm

My = 0,058 tm

Xmak = 125 cm = 1,25 m

Ymak = 62,5 cm = 0,625 m

Sx2 = (1,252) + (1,252)

= 3,125 m2

Sy2 = (0,6252) + (0,6252)

= 0,781 m2

n = 6

nx = 3

ny = 2

Pmak = clip_image030

= 53,179 t …< P1 tiang = 54,522 t

Pondasi Tipe 3

Beban maksimum yang diterima pada pondasi tipe 3

clip_image032

SPv = 337,106 t

Mx = 0,022 tm

My = 2,062 tm

Xmak = 125 cm = 1,25 m

Ymak = 125 cm = 1,25 m

Sx2 = (1,252) + (1,252)

= 3,125 m2

Sy2 = (1,252) + (1,252)

= 3,125 m2

n = 9

nx = 3

ny = 3

Pmak = clip_image034

= 37,734 t …< P1 tiang = 51,453 t

Kontrol Terhadap Geser Pons

4.8.7.1 Pile Cap Tipe 1 dan Tipe 2

Karena kolom tidak tertumpu pada pile, maka P yang diperhitungkan adalah P kolom.

P = 318,799 t

h = 0,7 m

t = clip_image036

= clip_image038

= 87,582 t/m2

= 8,76 kg/cm2 < 10,28 kg/cm2

t < t ijin =clip_image040 (tebal pile cap cukup, sehingga tidak memerlukan tulangan geser pons).

4.8.7.2 Pile Cap Tipe 3

Karena kolom tertumpu pada pile, maka P yang diperhitungkan adalah P tiang pancang.

P = 37,734 t

h = 0,7 m

t = clip_image042

= clip_image044

= 14,31 t/m2

= 1,431 kg/cm2 < 10,28 kg/cm2

t < t ijin = clip_image040[1] (tebal pile cap cukup, sehingga tidak memerlukan tulangan geser pons).

Penulangan Tiang Pancang

Penulangan tiang pancang dihitung berdasarkan kebutuhan pada waktu pengangkatan tersebut ada dua kondisi, yaitu satu tumpuan dan dua tumpuan.

Kondisi I (Dua Tumpuan)

clip_image046

Gambar 4. 39 Kondisi Pengangkatan 1 dan Momen yang Ditimbulkan

clip_image048

clip_image050

clip_image052

clip_image054

clip_image056

Dimana: q = Berat tiang pancang

= clip_image058 = 471 kg/m

L = 6 m

clip_image060

clip_image062

clip_image064

clip_image066

Didapatkan: a = clip_image068

= 1,243 m

M1 = clip_image070

= clip_image072

= 363,86 kgm

Dmak = clip_image074

= clip_image076

= 1413 kg

Kondisi II (Satu Tumpuan)

clip_image078

Gambar 4.40 Kondisi Pengangkatan 2 dan Momen yang Ditimbulkan

clip_image080

clip_image082

clip_image084

clip_image086

clip_image088 ® clip_image090

clip_image092

clip_image094

clip_image096

clip_image098

clip_image052[1]

clip_image101

clip_image103

Maka:

clip_image105

clip_image107

clip_image109

Didapatkan: a = clip_image111

= 1,75 m

M1 = clip_image070[1]

= clip_image113

= 721,219 kgm

D1 = clip_image115

= clip_image117

= 831,176 kg

Dari kedua kondisi di atas diambil yang paling menentukan yaitu:

M = 721,219 kgm

D = 1413 kg

clip_image119

Gambar 4.41 Penampang Tiang Pancang

Data yang digunakan:

- Dimensi tiang = ø 50 cm

- Berat jenis beton = 2,4 t/m3

- f’c = 25 Mpa

- fy = 400 Mpa

- h = 500 mm

- p = 70 mm

- øtulangan = 22 mm

- øsengkang = 8 mm

- d = h – p – øsengkang – ½ øtulangan

= 500 – 70 – 8 – 11 = 411 mm

- d’ = p + øsengkang + ½ øtulangan

= 70 + 8 + 11 = 89 mm

4.8.8.3 Tulangan Memanjang Tiang Pancang

Mu = 721,219 kgm = 7,212 kNm

clip_image121 kN/m2

clip_image123

clip_image125

clip_image127

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,00027

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image129

clip_image131

karena ρ < ρmin maka dipakai ρmin

As = ρ.b.d. 106

= 0,0035 . 0,500 . 0,411 . 106

= 719,25 mm2

Digunakan tulangan 2D22 (As = 760 mm2)

Cek Terhadap Tekuk

Dianggap kedua ujung sendi, diperoleh harga k = 1

r = 0,3 . h = 0,3 . 500 = 150 mm

clip_image133

clip_image135 (K > 20 maka kelangsingan diperhitungkan)

clip_image137

clip_image139

Ec = 4700 (f’c)0.5 = 23500 Mpa

clip_image141

clip_image143

Pu = 56,649 T = 566,49 KN

clip_image145

clip_image147

clip_image149

clip_image151

clip_image153

clip_image155

clip_image157

clip_image159

clip_image161

clip_image163

a < ab, dipakai rumus

clip_image165

clip_image167

Digunakan As min 1% Ag = 0,01.(1/4.π.(500)2) = 1962,5 mm

Digunakan tulangan 6 D 22 ( Asterpasang = 2281 mm2 )

Penulangan Geser Tiang Pancang

Vu = 1413 kg = 14130 N

Vn = clip_image169 N

Vc = clip_image171 N

Periksa vu > fvc:

vu = clip_image173 MPa

vc = clip_image175 MPa

fvc = 0,6 x 0,8333 = 0,50

vu < fvc Þ dipakai tulangan praktis

Digunakan tulangan sengkang ø8 – 200.

clip_image177

Gambar 4.42 Penulangan Tiang Pancang

Penulangan Pile Cap

Pile Cap Tipe 1

Penulangan didasarkan pada:

P1 = Pmak = 56,649 t

Mx = My = clip_image179 = 35,406 tm

Penulangan Arah x

clip_image181

Mu = 35,406 tm = 354,06 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 16 mm

Tinggi efektif arah x (dx) = h – p – ½ øD

= 700 – 70 – ½ .16

= 622 mm

clip_image183 kN/m2

clip_image123[1]

clip_image186

clip_image188

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,00294

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190

clip_image192

ρ < ρmin maka dipakai ρmin

As = ρ.b.d.106

= 0,0035 . 1 . 0,622 . 106

= 2177mm2

Dipakai tulangan D16 – 75 (As terpasang = 2681 mm2)

Penulangan Arah y

Mu = 35,406 tm = 354,06 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 16 mm

Tinggi efektif arah y (dy) = h – p – Dx – ½ øD

= 700 – 70 – 16 – ½ .16

= 606 mm

clip_image194 kN/m2

clip_image123[2]

clip_image196

clip_image198

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,0031

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190[1]

clip_image192[1]

ρ < ρmin maka dipakai ρmin

As = ρ.b.d.106

= 0,0035 . 1 . 0,606 . 106

= 2121mm2

Dipakai tulangan D16 – 75 (As terpasang = 2681 mm2)

Pile Cap Tipe 2

clip_image200

Penulangan didasarkan pada:

P1 = Pmak = 53,179 t

Mx = clip_image202 = 66,474 tm

My = clip_image204 = 33,237 tm

Penulangan Arah x

Mu = 66,474 tm = 664,74 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 19 mm

Tinggi efektif arah x (dx) = h – p – ½ øD

= 700 – 70 – ½ .19

= 620,5 mm

clip_image206 kN/m2

clip_image123[3]

clip_image208

clip_image210

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,0057

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190[2]

clip_image192[2]

ρmin < ρ < ρmax maka dipakai ρ

As = ρ.b.d.106

= 0,0057 . 1 . 0,6205. 106

= 3538,62 mm2

Dipakai tulangan D19 – 75 (As terpasang = 3780 mm2)

Penulangan Arah y

Mu = 33,237 tm = 332,37 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 19 mm

Tinggi efektif arah y (dy) = h – p – Dx – ½ øD

= 700 – 70 – 19 – ½ .19

= 601,5 mm

clip_image213 kN/m2

clip_image123[4]

clip_image215

clip_image217

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,00295

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190[3]

clip_image192[3]

ρ < ρmin maka dipakai ρmin

As = ρ.b.d.106

= 0,0035 . 1 . 0,6015. 106

= 2105,25 mm2

Dipakai tulangan D19 – 125 (As terpasang = 2268 mm2)

clip_image219

Pile Cap Tipe 3

Penulangan didasarkan pada:

P1 = Pmak = 37,734 t

Mx = My = clip_image221 = 47,168 tm

Penulangan Arah x

Mu = 47,168 tm = 471,68 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 19 mm

Tinggi efektif (d) = h – p – ½ øD

= 700 – 70 – ½ .19

= 620,5 mm

clip_image223 kN/m2

clip_image123[5]

clip_image225

clip_image227

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,00398

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190[4]

clip_image192[4]

ρmin < ρ < ρmax maka dipakai ρ

As = ρ.b.d.106

= 0,00398 . 1 . 0,6205 . 106

= 2467,68 mm2

Dipakai tulangan D19 – 100 (As terpasang = 2835 mm2)

Penulangan Arah y

Mu = 47,168 tm = 471,68 kNm

Tebal pelat (h) = 700 mm

Penutup beton (p) = 70 mm

Diameter tulangan (øD) = 19 mm

Tinggi efektif arah y (dy) = h – p – Dx – ½ øD

= 700 – 70 – 19 – ½ .19

= 601,5 mm

clip_image229 kN/m2

clip_image123[6]

clip_image231

clip_image233

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,00424

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image190[5]

clip_image192[5]

ρmin < ρ < ρmax maka dipakai ρ

As = ρ.b.d.106

= 0,00424 . 1 . 0,6015 . 106

= 2553,06 mm2

Dipakai tulangan D19 – 100 (As terpasang = 2835 mm2)

Perhitungan Tie Beam

clip_image235

Ukuran sloof 600 x 400 cm

Data tanah: – f = 29,326o

- c = 0,115 kg/cm2 = 1,15 t/m2 = 11,5 kPa

- g = 1,758 t/m3

Tanah tersebut didefinisikan sebagai tanah sangat lunak karena c < 18 kPa, sehingga untuk menghitung qu digunakan rumus sebagai berikut:

qu = clip_image237

c’ = clip_image239 t/m2

go = clip_image241 = clip_image243= 17,246 t/m3

Dari tabel faktor kapasitas dukung tanah (Terzaghi), diperoleh:

f = 29,326o ® – Nc’ = 18,4

- Nq’ = 7,9

- Ng’ = 5,4

qu = clip_image245

= 16,185 t/m2

Berat sendiri = clip_image247 = 0,576 t/m

q = clip_image249 = 7,054 t/m

Perhitungan Gaya Dalam

clip_image251

Gambar 4.43 Denah Tie Beam

Perhitungan gaya dalam untuk S1

- Perhitungan momen

Mtump = clip_image253 = clip_image255 = 26,388 tm

Mlap = clip_image257 = clip_image259 = 13,194 tm

- Perhitungan gaya lintang

Dtump = clip_image261 = clip_image263 = 23,631 t

Dlap = D berjarak 1/5L dari ujung balok

= clip_image265 = 14,179 t

Untuk perhitungan gaya dalam tie beam lainnya ditabelkan sebagai berikut:

Tabel 4.42 Gaya Dalam pada Tie Beam

Sloof

L

(m)

0.5*L

1/5*L

q

(kg/m)

Momen

Gaya Lintang

Mtump

(kgm)

Mlap.

(kgm)

Tump.

(kg)

Lap.

(kg)

S1

6.7

3.35

1.340

7.054

26.388

13.194

23.631

14.179

S2

5.45

2.725

1.090

7.054

17.460

8.730

19.222

11.533

S2

5.25

2.625

1.050

7.054

16.202

8.101

18.517

11.110

S3

8

4

1.600

7.054

37.621

18.811

28.216

16.930

S4

6

3

1.200

7.054

21.162

10.581

21.162

12.697

S5

3.5

1.75

0.700

7.054

7.201

3.600

12.345

7.407

S5

2.75

1.375

0.550

7.054

4.445

2.223

9.699

5.820

S5

2.5

1.25

0.500

7.054

3.674

1.837

8.818

5.291

Perhitungan Penulangan Tie Beam

Penulangan S1

a) Tulangan Lentur

M tump = 26,388 kgm = 263,88 kNm

M lap = 13,194 kgm = 131,94 kNm

Tinggi sloof (h) = 600 mm

Lebar sloof (b) = 400 mm

Penutup beton (p) = 40 mm

Diameter tulangan (D) = 22 mm

Diameter sengkang (ø) = 10 mm

Tinggi efektif (d) = h – p – ø – ½ D

= 600 – 40 – 10 – ½ . 22

= 539 mm

d’ = p + ø + ½ D

= 40 + 12 + ½ . 22

= 61 mm

f’c = 25 Mpa

fy = 400 Mpa

Tulangan Tumpuan

Mu = 263,88 kNm

clip_image267 kN/m2

clip_image123[7]

clip_image269

clip_image271

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,0076

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image129[1]

clip_image131[1]

karena ρmin < ρ < ρmax maka dipakai ρ

Dipakai tulangan tekan 2D22 (As terpasang = As2 = 760 mm2)

As1 = ρ.b.d.106

= 0,0076 . 0,40 . 0,539 . 106

= 1648,490 mm2

As = As1 + As2

= 1630,835 + 760

= 2408,490 mm2

Digunakan tulangan tarik 7D22 (As = 2661 mm2)

Tulangan Lapangan

Mu = 13,194 kNm

clip_image273 kN/m2

clip_image123[8]

clip_image275

clip_image277

Dengan rumus abc didapatkan nilai ρ = 0,0037

Pemeriksaan syarat rasio penulangan (ρmin < ρ < ρmax)

clip_image129[2]

clip_image131[2]

karena ρmin < ρ < ρmax maka dipakai ρ

Dipakai tulangan tekan 2D22 (As terpasang = As2 = 760 mm2)

As1 = ρ.b.d.106

= 0,0037 . 0,40 . 0,544 . 106

= 792, 349 mm2

As = As1 + As2

= 792, 349 + 760

= 1552,349 mm2

Digunakan tulangan tarik 5D22 (As = 1901 mm2)

Periksa lebar balok

Maksimal tulangan yang hadir sepenampang adalah 7D22, dengan posisi 2 lapis (5D22 untuk lapis dasar dan 2D22 untuk lapis kedua)

Jarak minimum tulangan yang disyaratkan adalah 25 mm.

Lebar balok minimum:

2 x p = 2 x 40 = 80 mm

2 x ø sengkang = 2 x 10 = 20 mm

5 x D22 = 5 x 22 = 110 mm

4 x jrk min tul = 4 x 25 = 100 mm

Total = 310 mm

Jadi lebar balok sebesar 400 mm cukup memadai.

b) Tulangan Geser

Tulangan Geser Tumpuan

Vu = 23,631 t = 236309,00 N

Vn = clip_image279 MPa

Vc = clip_image281 MPa

Vs = Vn – Vc = 393848,33 – 179666,67 = 214181,67 N

Periksa vu > fvc:

vu = clip_image283 MPa

vc = clip_image175[1] MPa

fvc = 0,6 x 0,8333 = 0,50

vu < fvc Þ perlu tulangan geser

Periksa fvs > fvs mak:

fvs = vu – fvc = 1,096 – 0,50 = 0,596 Mpa

f’c = 25 MPa → fvs maks = 2,00 (Tabel nilai fvs maks, CUR 1 hal 129)

fvs > fvs mak Þ OK

Perencanaan sengkang

clip_image285 mm2

Digunakan tulangan sengkang ø = 10 mm, luas dua kaki As = 557 mm2

clip_image287 mm

smax = clip_image289 mm

Digunakan tulangan sengkang ø 10 – 150.

Sengkang minimum perlu = clip_image291 mm2

Luas sengkang terpasang 157 mm2 > 50 mm2

Tulangan sengkang ø10 – 150 boleh dipakai.

Tulangan Geser Lapangan

Vu = 14,178540 t = 141785,40 N

Vn = clip_image293 MPa

Vc = clip_image281[1] MPa

Vs = Vn – Vc = 236309,00 – 179666,67 = 56642,33 N

Periksa vu > fvc:

vu = clip_image296 MPa

vc = clip_image175[2] MPa

fvc = 0,6 x 0,8333 = 0,50

vu < fvc Þ perlu tulangan geser

Periksa fvs > fvs mak:

fvs = vu – fvc = 0,658 – 0,50 = 0,158 Mpa

f’c = 25 MPa → fvs maks = 2,00 (Tabel nilai fvs maks, CUR 1 hal 129)

fvs > fvs mak Þ OK

Perencanaan sengkang

clip_image299 mm2

Digunakan tulangan sengkang ø = 10 mm, luas dua kaki As = 157 mm2

clip_image301 mm

smax = clip_image289[1] mm

Digunakan tulangan sengkang ø 10 – 250.

Sengkang minimum perlu = clip_image304 mm2

Luas sengkang terpasang 226 mm2 > 83,33 mm2

Tulangan sengkang ø10 – 250 boleh dipakai.

clip_image306

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: